Training Behavior Based Safety Batch IV, Lombok 5 - 7 Mei 2010
February 9, 2010 by admin
Filed under Behavior Based Safety, Health & Safety
LATAR BELAKANG
Banyak perusahaan industri/manufaktur yang sudah lama menjalankan program K3, namun angka kecelakaan kerja masih tinggi dan berflutuasi. Angka statistik kecelakaan kerja tidak dapat ditekan hingga mencapai nihil kecelakaan (zero accident). Bahkan, hampir semua karyawan merasakan bahwa, K3 itu menghambat jalannya mata rantai produksi. Para manajer dan supervisor percaya bahwa Program K3 tidak mempunyai nilai tambah (added value) bagi dirinya maupun perusahaan. Mental melakukan tugas apa adanya (“check box mentality”) tumbuh subur di setiap lini organisasi perusahaan.
Penelitian angka statistik menunjukkan bahwa 96% dari semua kecelakaan kerja disebabkan karena faktor perilaku manusia. Pekerja adalah manusia yang cenderung mempunyai sifat ceroboh, lalai, sering mengambil jalan pintas (short-cut), tidak mematuhi standar prosedur operasi, dll. Ini semua merupakan paradigma gunung es (Iceberg Paradigm), yang sering disebut sebagai perilaku tidak aman (unsafe behaviour). Perilaku aman dan tidak aman dari seorang pekerja tidak pernah dianalisa, bahkan tidak pernah dilaporkan sama sekali. Kalaupun ada sistem pelaporannya, akan cenderung mengarah pada suasana saling menyalahkan satu dengan yang lain (blame culture). Padahal, menurut analisa paradigma gunung es (Iceberg Paradigm), tidak ada perbedaan antara perilaku tidak aman dengan kecelakaan kerja (accident). Keduanya sama-sama “berwujud” sebagai “gunung es”. Bagaimana caranya agar gunung es tersebut mengecil dan mencair ? Perlu adanya suatu komitmen dari semua manajemen dan pekerja, tentang perlunya menghangatkan suasana K3 diorganisasi perusahaan, agar tidak terjadi gunung es yang berkelanjutan, melalui program yang disebut “Behavioral Based Safety”.
Program ini memang sengaja diolah dan dikemas untuk diberikan kepada perusahaan tertentu yang mau menumbuhkan benih kultur K3 (safety culture) di perusahaan tersebut. Program “Behavior Based Safety” ini akan dikelola oleh para pimpinan perusahaan, semua manajer dan supervisor dari perusahaan tersebut. Agar mereka cakap dan handal untuk mengelolanya, maka perlu adanya suatu pelatihan yang dikemas khusus untuk memenuhi kultur K3 yang diinginkan. Pada saat training nanti, mereka akan dibekali teknik metoda baru untuk melakukan percakapan yang berkualitas (“quality conversation”) tentang K3. Metoda baru ini, sangat dikenal di banyak industri maju yang sudah mencapai nihil kecelakaan kerja, dengan pendekatan iklim K3 yang kondusif (“postive safety climate”). Diharapkan setelah selesai pelatihan, para pimpinan perusahaan, manajer dan supervisor akan mempunyai “mind-set” yang berubah dari sebelumnya, disamping program “Behavior Based Safety” (BBS) yang harus dikelola dari hari ke hari.
Training Behavior Based Safety Batch III di Bandung
January 1, 2010 by admin
Filed under Behavior Based Safety, Blog, Featured
Phitagoras Training telah menyelenggarakan training Behavior Based Safety Batch III telah selesai diselenggarakan pada tanggal 28 - 30 Desember 2009 di Hotel Sheraton Bandung. Training BBS tersebut di fasilitasi oleh Bapak Parlin, senior consultant Phitagoras. Training Behavior Based Safety tersebut di ikuti oleh 13 orang peserta yaitu Bapak Agus Adam (Cipta Mortar Utama), Bapak Kodrat (SANTOS), Ibu Peggy Theresia (Pertamina Hulu Energy ONWJ) , Ibu Audrey Angela ( PT. Offshore Services Indonesia), Ibu Chendy Octaviana, Bapak Fajar Eka, Bapak Zainal Abidin (Medco E&P), Bapak Singgih Riyadi dan Bapak Suhono dari Pertamina Learning Centre, Bapak Krisdian Kusuma (PGN), Bapak Yodi Permadi (Total E&P Indonesie), Bapak Dido Aditya (Kodeco Enercy Co.Ltd), dan Bapak Nozwan Nazar (BP Migas) Read more








